Kerajaan tarik subsidi dari rakyat kerana mahu melangsaikan hutang tertunggak dari 1MDB

Kerajaan tarik subsidi dari rakyat kerana mahu melangsaikan hutang tertunggak dari 1MDB
Lebih baik berusaha menyalakan lilin dari menyumpah kepada kegelapan.Pepatah pernah berbunyi: Jika hendak merosakkan tanaman "racunlah akarnya. "Jika hendak merosakkan "bangsa", racunilah "Sejarah" mereka...

Tuesday, 15 January 2013

Hujah penggunaan kata Allah hak mutlak Islam.





  Penggunaan kata "Allah" Jika ditinjau dari Sudut arkeologis, historis, dan kaedah penterjemahan bahasa, bukan merupakan suatu Bentuk pengekangan ataupun Sikap pemaksaan terhadap minoritas.

              Kata "Allah" itu bukan serumpun dari bahasa semitik kuno (Ibrani, Aramaic dan Arab) sehingga kata "Allah" itu seasalnya dengan El, Eloah, Elohim maupun, karena kata "Allah" itu bukan bahasa melainkan nama diri dari sesembahan, dan kata " Allah "sudah Dikenali jauh sebelum Agama Islam ada, yaitu sebagai Procon" nama diri "sesembahan paganisme, kemudian Islam datang dengan mengubah Konsep kata" Allah "sebagai sang Khalik / pencipta.


Bahasa Ibrani tidak Mengenal kata "Allah", apalagi sebagai sebutan, sehingga tidak seasalnya dengan El, Eloah, dan Elohim yang merupakan "Sebutan" dari Nama Diri "Yahweh" dalam bahasa Ibrani.


1. Alquran berbahasa Inggeris Rom Transliterasi al-Quran dengan teks penuh Bahasa Arab, Bahasa Inggeris transliterasi oleh Abdullah Yusuf Ali, Dar Al Furqan-Beirut Lubnan Pada Ayat Al Faatihah ayat 1 dan 2 yang dalam transliterasi dari bahasa Arab berbunyi Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim. Al-Hamdulillaahi Rabbil-Aalamiin diterjemahkan: Dalam nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani. Segala puji tertentu bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam.

2. Alquran berbahasa Belanda Inleiding tot de studie van de Heilige Qor'aan pintu Hazrat Mirza Bashir-ud-Din Mahmud Ahmad, Hoofd van de Ahmadiyya Beweging en Tweede opvolger van Hazrat Ahmad (Dewa vrede ruste op mengepung), de Beloofde messias en Mahdi Stichter van de Beweging, Rabwah-Punjab-Pakistan, Pada Ayat Al Faatihah ayat 1 dan 2 yang dalam transliterasi dari bahasa Arab berbunyi Bismillaahir-Rahmaanir-Rahiim. Al-Hamdulillaahi Rabbil Aalamiin diterjemahkan Dalam Naam van Allah de Barmhartige, de Genadevolle. Alif Laam MIEM (Ik ben Allah, de Al-wetende).

                     

Jika Umat beragama Hidup dalam jalurnya Masing-masing, maka antara satu agama dengan yang lain, tidak akan terjadi perkara yang menimbulkan konflikseperti yang selama ini terjadi antara Kristian Katolik dengan Islam. Dalam Agama Kristian dan Katholik, sebenarnya tidak pernah ada kata "Allah", apa yang selama ini dipergunakan untuk menterjemah kata "Allah" berasal dari bahasa Ibrani "Elohim" sedangkan untuk kata "ALLAH" (dalam Huruf kapital semua) berasal dari nama diri sesembahannya para Nabi yang bertulis dalam Alkitab, yaitu "Yahweh" dari Huruf Ibrani "Yod Beliau WAW Dia" Jika yang ditransliterasi ke Huruf latin akan bertulis YHWH.


Jadi agar tidak terjadi ancaman antara Agama Kristen dan Katholik terhadap Islam, memang sewajarnya Kristen Katholik tidak lagi menggunakan kata "Allah" untuk menterjemah kata "Elohim", melainkan menggunakan kata "Siak", dan tidak menggunakan kata "ALLAH" untuk menterjemah kata " Yahweh ", melainkan tetap Ditulis bergantung kepada keputusan" Yahweh "atau Ditulis bergantung kepada keputusan Huruf transliterasinya yaitu YHWH.


Di Indonesia kata "Allah", itu bukan sinonim dari kata "Siak", sebab pemahaman kata "Allah" sendiri antara Kristen dan Katholik dengan Islam berbeza. Jika diklarifikasi berdasarkan pemakaian kata "Allah" pada Umat Kristen dan Katholik, akan berprinsip bahwa Allah itu "Roh", sedangkan Islam berprinsip "Allah" itu Zat, kalau kata "Allah" itu merupakan "bahasa" Seharusnya antara Kristen dan Katholik dengan Islam serta dengan  Agama lain seperti Hindu dan buddha, akan punya pemahaman yang sama. Jadi Penggunaan kata "Allah" oleh Umat Kristen dan Katolik selama ini, merupakan kesalahan penterjemahan.

Contohnya: "kerusi" Kata yang mengadopsi dari bahasa Arab Al-kerusi baik Umat Kristen, Katholik, Islam, Hindu dan buddha, dapat memiliki Persepsi yang sama dari Arti kata tersebut yaitu tempat untuk duduk sentiasa, sedangkan kata Allah, Umat Hindu dan buddha tidak pernah memakainya sebagai sinonim dari kata Siak sebab kata "Allah" itu nama diri yang tidak Boleh dan tidak bisa diterjemahkan.

                               

Kata "Allah" juga bukan berasal dari kata "Al-ilah" karena:

a. Allah itu nama tuhan bagi Umat Islam, buktinya Umat Islam di Amerika Jika sembahyang akan mengucapkan "Allahu akbar" bukan "Allah akbar".

b. Allah bukan berasal dari al-ilah dengan menghilangkan alif seperti Penjelasan para Dosen Islamologi, sehingga tinggal "lah" sebab Artinya akan Ditukar, bukan nama tuhannya Umat Islam atau sebutan untuk "dewa" atau sesembahan lagi, melainkan lisyakshin atau baginya laki-laki.

c. Ilah itu sudah satu pakej Kosa Kata yang tidak boleh dibuang, karena kata Benda bukan kata kerja.

d. Ilah boleh dimasukkan alif lam karena ilah adalah gelar atau sebutan sedangkan Allah itu tidak boleh karena nama peribadi.

Contoh: Ustaadzun guru laki-laki, boleh dimasukkan alif lam, sehingga menjadi al-ustaadzu, tetapi Fatimah tidak boleh Ditulis bergantung kepada keputusan menjadi Fatimah al-Fatima karena itu nama peribadi atau nama orang.

e. Ilah atau al-ilah ada mutsannahnya yaitu ilahaani Artinya dua TUHAN atau dua dewa, sedangkan Allah tidak ada mutsannahnya /-nya tatsniyah, kalau ada Artinya bukan Allah lagi tetapi Allahaani, ini mengganti nama sesembahannya Umat Islam.
Contoh: Fatimah kalau di-mutsannah-kan menjadi Fatimataani yang berarti bukan lagi Fatimah tetapi Ditukar menjadi Tante Fatimataani.

f. Ilah atau al-ilah bisa diterjemahkan menjadi  Sesuatu yang disembah Sedang "Allah" tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun karena nama peribadi.

                                              
g. Allah bukan berasal dari Hamzah, lam, ha karena kalau diuraikan secara ILMU shorof (ILMU yang menguraikan kata kerja) tidak pernah dijumpai, baik fiil madhinya / tegang lalu, mudhori'nya / berterusan tegang sekarang, maupun mashdarnya / kata kerja yang tidak ada waktunya atau sumber kata. Yang ada Hamzah, lam, lam, ha, atau allaha, tetapi kalau diuraikan secara wazan / saiz / Timbangan dalam ILMU shorof juga tidak bisa menjadi Allah.

Contoh: "Allaha" dengan wazan af'ala-yuf'ilu-if'aalan. Jadi kalau kita uraikan secara nahwu shorof "Allaha" menjadi: Allaha-yullihu-illaahan. Dan itu bukan Allah tetapi sebutan.

Tiada satu pun makhluk yang berhak Memakai nama "Allah".

 Maka hanya Manusia Boleh Memakai nama Abdullah (hamba Allah), Abdurrahman (hamba Allah Yang Maha Rahman), dll. Karena Kerana itulah kata tidak "Allah" Boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Maka penterjemahan "Allah" menjadi Tuhan (bahasa inggris)  adalah tindakan yang batil. Karena Tuhan boleh diubah menjadi Bentuk jama '(tuhan-tuhan). Sedangkan Allah tidak boleh diubah menjadi Bentuk jamak.

No comments:

biar hati berbicara & menilainya

biar hati berbicara & menilainya